Hati memiliki logika yang tidak mampu dipahami oleh akal pikiran.

Latest

Menyatakan Alif

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اﷲِارَّحْمَنِ ارَّحِي

Alif itu ada

Alif itu nyata

Alif itu berbaur

Alif itu menyatu

Alif itu hilang dalam Bismillah

Alif itu ada bila kau melihat dari هَا

Alif itu ada bila kau melihat dari مَا

Alif itu nyata bila مَا  fana

Alif itu nyata dalam Ahmad bila miim

Alif itu nyata ketika miim fana

Allah nyata ketika Muhammad fana

Advertisements

Untitled

Kawan, maafkan aku jika mungkin kalian ada yang berfikir bahwa aku menyuratkan tulisan-tulisan di halaman ini agar aku terlihat hebat, lebih baik, terlihat lebih berilmu atau apapun itu.

Tidak kawan, itu tidak benar. Saya menulis di sini semata-mata hanya ingin menyampaikan apa yang saya ketahui, apa yang telah diamanahkan kepada saya. Awalnya saya juga tidak punya keinginan untuk menulis dan menyebarkan hal-hal itu, namun karena berbagai nasehat untuk menyampaikan apa yang saya dapatkan kepada orang lain maka saya memberanikan diri untuk mulai bercerita.

Sekali lagi kawan, tidak ada niat untuk membanggakan diri. Apa yang harus dibanggakan, ibarat dalam jalur air saya hanyalah sebuah keran. Tugas saya hanya menyatakan air, sedang air itu sendiri bukan milik saya dan bukan bersumber dari saya bahkan bukan saya yang mengatur perjalanannya. Mungkin saja mata air itu suatu saat berhenti mengalir ke arah saya, dan saya tak lagi dapat menyatakan apa-apa. Lalu mengapa saya harus berbangga.

Saya hanya ingin apabila yang saya ketahui ini adalah kebenaran, maka manisnya kebenaran itu dapat kita kecapi sama-sama. Namun apabila itu adalah kubangan hitam, saya mohon maaf dan campakkanlah saya disini. Jangan buka lagi keran ini.

Sekali lagi kawan, saya mohon maaf. Semoga nanti kita dapat bersama-sama berjumpa dengan Sang Kekasih kita.

Kisahku Bermula Dari Suatu Ketika

Siapakah aku ?
aku adalah seorang pembantu yang sedikit sekali mengerti akan arti abdi.
Lho katanya seorang pembantu, tapi kok ngga ngerti arti abdi ? Tapi memang begitulah kenyataannya.
aku memiliki Tuan. Tuanku itu adalah raja. Ia raja yang sangat baik, ia sangat sayang kepadaku, Ia juga sangat mengasihi aku.
Namun aku tetap tak dapat melihat seluruh kasih dan sayang Nya, mungkin karena itulah aku belum bisa menjadi abdi yang baik.

Kisahku bermula saat Ia (sang Tuan) mengangkat kakekku dari kegelapan dan membawanya ke dalam istana Nya.

Jauh sebelum itu kami hanyalah secuil kotoran hitam, layaknya debu yang ditiup angin kesana-kemari.
Hingga Ia (sang Tuan) menyuruh para pembantu Nya untuk memungut kakek ku dari dasar kegelapan dan membawa kesisi Nya dan Ia ingin menjadikan kami sebagai pewaris kekuasaan atas para pembantu sekaligus menjadi duta-duta dari kerajaan Nya.
Akan tetapi, para pembantu Nya memiliki dugaan buruk terhadap kakek. Mereka menduga kakek akan membuat kerusakan di dalam Kerajaan Nya yang agung.
Lalu apakah hal itu lantas membatalkan niatNya ?
Tidak !! Ia malah membela kakek dan berkata bahwa Ia memiliki sebuah rencana yang hanya tak diberitahukan kepada siapapun diantara mereka.

Baca Selengkapnya

Waham ‘Kesalehan’, Waham ‘Kekasih Allah’, Waham ‘Pembimbing Spiritual’

Saat sedang browsing nyari-nyari artikel, saya menemukan sebuah artikel yang sangat bagus tulisannya mas Herry Mardian. Dikarenakan saya kurang pintar dalam menulis, maka saya boyong (pinjam) artikel beliau kemari. Berikut tulisan lengkapnya


MARI sedikit merenung.

Umumnya dari kita mencari jalan menuju Tuhan dengan membawa kriteria kita sendiri. Seorang mursyid haruslah berwajah cerah, berseri, tampak simpatik, dan sebagainya. Kita membawa waham kita sendiri dalam mencari pembimbing. Mungkin penampilannya berjubah dan berjanggut, atau apapun lah, yang biasa kita asosiasikan dengan penampilan seorang ’soleh’.
Sahabat, jika sekarang, misalkan di pasar dekat rumah kita, ada seorang yang penuh penyakit kulit. Penampilannya menjijikkan. Kemana-mana dirubungi lalat dan belatung. Ia tinggal di gubuk sebagai seorang gelandangan. Jika ia mengatakan bahwa ia membawa risalah Allah, maukah kita mengikutinya? Mungkin tidak, karena penampilannya sangat jauh dari ’soleh’.

Jika tetangga kita sekarang, di RT sebelah misalkan, seorang yang dikucilkan oleh masyarakat. Di atap rumahnya membangun perahu, dan setiap hari kerjanya berteriak-teriak bahwa 6 bulan lagi akan banjir. Setiap hari ia menjadi bahan ejekan masyarakat dan tetangga anda. Akankah kita mengikutinya? Atau ikut menertawakan?

Jika di negara kita ada seorang panglima berusia 20-an tahun, yang mengatakan bahwa dia membawa perintah Tuhan untuk menyebarkan risalahnya, sementara dia senantiasa memimpin pasukannya ke negara tetangga dengan membantai, menyiksa, atau mengampuni dan memaafkan, benar-benar sesuka hatinya. Akankah kita mengikutinya?

Seorang tua yang hidup di tepian padang gersang, menggembala kambing-kambingnya. Setiap hari hanyalah beternak, dan menimba sumur untuk ternaknya. Hidup di gubuk, jauh dari kota. Miskin, tua renta. Tidak punya apapun yang bisa ditawarkan. Jika ia mengatakan bahwa ia bisa membimbing anda menuju Allah, apakah anda mau menjadi muridnya?

Seorang anak muda pendiam, bergaul seperlunya saja, tidak suka ‘kumpul-kumpul’. Kerjanya merenung. Alim, tapi pendiam. Sering pergi memencilkan diri ke pinggir kota. Anak muda itu secara sensasional tiba-tiba menikahi janda tua yang sangat cantik dan kaya, dan ia pun mendadak menjadi kaya raya pula karenanya. Lalu ia mengatakan bahwa ia telah bertemu malaikat, dan mengatakan bahwa anda harus mengikutinya agar selamat. Ikutkah anda?

Seorang berpenampilan gelandangan, pakaiannya lusuh dan kotor. Pekerjaannya tak jelas. Sering terlihat di pasar. Hanya kadang ia membantu membersihkan mesjid supaya boleh tidur di dalamnya. Maukah anda mengangkatnya sebagai pembimbing spiritual?

Seorang muda tampan, berpenampilan soleh, bersih dan alim, sangat ukhrawi, miskinnya luar biasa, hartanya hanya cangkir dan pakaian yang melekat di tubuhnya. Tapi ia amat sangat dekat dengan seorang pelacur dan selalu membelanya mati-matian dari cemoohan masyarakat. Percayakah anda padanya, jika dia mengatakan bahwa ia adalah seorang nabi?

Masuklah padaKu seorang diri

Allah berseru pada hamba-Nya,

“Hendaklah engkau bekerja tanpa melihat pekerjaan itu!

Hendaklah engkau bersedekah tanpa memandang sedekah itu!

Engkau melihat kepada amal perbuatanmu, walau baik sekalipun, tak layak bagi-Ku untuk memandangnya. Maka janganlah engkau masuk kepada-Ku besertanya!

Sesungguhnya, jika engkau mendatangi-Ku berbekal amal perbuatanmu, maka akan Aku sambut dengan penagihan dan perhitungan. Jika engkau mendatangi-Ku berbekal ilmu, maka akan Aku sambut dengan tuntutan! Dan jika engkau mendatangi-Ku dengan ma’rifat, maka sambutan-Ku adalah hujjah, padahal hujjah-Ku pastilah tak terkalahkan.

Hendaklah engkau singkirkan ikhtiar (ikut mengatur dan menentukan kehendak-Nya untuk dirimu—red), pasti akan aku singkirkan darimu tuntutan. Hendaklah engkau tanggalkan ilmumu, amalmu, ma’rifat-mu, sifatmu dan asma (nama) mu dan segala yang ada (ketika mendatangi-Ku), supaya engkau bertemu dengan Aku seorang diri.

Bila engkau menemui-Ku, dan masih ada diantara Aku dan engkau salah satu dari hal-hal itu, —padahal Aku-lah yang menciptakan semua itu, dan telah Aku singkirkan semua itu darimu karena cinta-Ku untuk mendekat kepadamu, sehingga janganlah membawa semua itu ketika mendatangi-Ku—, jika masih saja engkau demikian, maka tiada lagi kebaikanmu yang tersisa darimu.

Kalau saja engkau mengetahui, ketika engkau memasuki-Ku, pastilah engkau bahkan akan memisahkan diri dari para malaikat, sekalipun mereka semua saling bahu-membahu untuk membantumu, karena keraguanmu itu (bahwa ada penolongmu dihadapan-Nya selain Dia—red.), maka hendaklah jangan ada lagi penolong selain Aku.

Jangan pernah engkau melangkah ke luar rumah tanpa mengharap keridhaan-Ku, sebab Aku-lah yang menunggumu (di luar rumah—red.) untuk menjadi penuntunmu.

Temuilah Aku dalam kesendirianmu, sekali atau dua kali setelah engkau menyelesaikah shalatmu, niscaya akan Aku jaga engkau di siang dan malam harimu, akan Aku jaga pula hatimu, akan Aku jaga pula urusanmu, dan juga keteguhan kehendakmu.

Tahukah engkau bagaimana caranya engkau datang menemui-Ku seorang diri? Hendaknya engkau menyaksikan bahwa sampainya hidayah-Ku kepadamu adalah karena kepemurahan-Ku. Bukan amalmu yang menyebabkan engkau menerima ampunan-Ku, bukan pula ilmumu.

Kembalikan pada-Ku buku-buku ilmu pengetahuanmu, pulangkan pada-Ku catatan-catatan amalmu, niscaya akan aku buka dengan kedua tangan-Ku, Kubuat ia berbuah dengan pemberkatan-Ku, dan akan kulebihkan semuanya itu karena kepemurahan-Ku.”

(Dari kitab ‘Al-Mawaqif wal Mukhtabat’, Imam An-Nifari, dengan beberapa kalimat yang diperbaiki tata bahasanya.)

sumber : suluk

Ikhlas dan Tingkatannya

Sesungguhnya nafs (ego) manusia itu senantiasa mengajak kepada kejahatan, kecuali kalau Allah Swt mengasihi” (QS 12 : 53)

Rasulullah saw bersabda, ”Setiap kebenaran itu ada hakikatnya dan tidaklah seorang hamba dapat mencapai hakikat keikhlasan sampai ia merasa tidak suka dipuji atas amal (ibadah) yang ditujukannya kepada Allah.”

Imam Ali as berkata, ”Barangsiapa yang tidak bertentangan apa yang ada dalam hatinya dengan apa yang ia nyatakan, dan tidak bertentangan pula perbuatan dan perkataannya, maka sungguh ia telah menunaikan amanah dan telah memurnikan (akhlas) penghambaannya.”
Rumi mengatakan, “Engkau mesti ikhlas dalam beramal,agar Tuhan Yang Maha Agung menerimanya. ikhlash adalah sayap amal ibadah. Tanpa sayap, bagaimana engkau dapat terbang ke tempat bahagia?

Sahabat, setiap manusia pasti menginginkan kehidupan yang bahagia, menikmati hidup ini tanpa merasa terbebani oleh berbagai masalah dan hal ini hanya akan dirasakan orang yang sungguh-sungguh berupaya ikhlas, menjaga setiap amalnya, baik amal ibadah maupun amal shalih dalam kehidupan bermasyarakatnya, hanya bagi Allah.

Tidak terbersit keinginan untuk dipuji, dihargai, dihormati makhluk. Ringan saja ketika melakukan sesuatu, yang penting baginya adalah ridha dan berkah Allah. Ia tahu bahwa tugasnya di dunia ini hanya dua, pertama luruskan niat selalu, hanya demi meraih cinta Allah, lalu selanjutnya ia harus menyempurnakan ikhtiar agar hasil yang diharapkan betul-betul optimal, terbaik yang dapat dipersembahkannya. Read the rest of this page »

Tersesat di Surga

Seorang pemuda, ahli amal ibadah datang kepada seorang Sufi. Sang pemuda dengan bangganya mengatakan kalau dirinya sudah melakukan amal ibadah wajib, sunnah, baca Al-Qur’an, berkorban untuk orang lain dan kelak harapan satu satunya adalah masuk syurga dengan tumpukan amalnya.
Bahkan sang pemuda tadi malah punya catatan amal baiknya selama ini dalam buku hariannya, dari hari ke hari.
“Saya kira sudah cukup bagus apa yang saya lakukan Tuan…”
“Apa yang sudah anda lakukan?”
“Amal ibadah bekal bagi syurga saya nanti…”
“Kapan anda menciptakan amal ibadah, kok anda merasa punya?”
Pemuda itu diam…lalu berkata,
“Bukankah semua itu hasil jerih payah saya sesuai dengan perintah dan larangan Allah?”

“Siapa yang menggerakkan jerih payah dan usahamu itu?”
“Saya sendiri…hmmm….”
“Jadi kamu mau masuk syurga sendiri dengan amal-amalmu itu?”
“Iya …”
“Saya tidak menjamin kamu bisa masuk ke surga. Kalau toh masuk kamu malah akan tersesat disana…”
Pemuda itu terkejut bukan main atas ungkapan Sang Sufi.

Read the rest of this page »

%d bloggers like this: