Hati memiliki logika yang tidak mampu dipahami oleh akal pikiran.

Orang Beriman adalah Yang Mengenal Allah (para arif)

 

Siapa itu Allah ?

Benarkah kita telah mengenal Nya ?

Banyak orang yang mengaku telah mengenal Allah, dan mungkin kita termasuk di dalam kategori orang yang mengaku-aku  ini.
Namun, benarkah kita telah mengenal Nya sebenar-benar kenal ?
Mari kita lihat beberapa ciri yang disebutkan oleh Imam Ali tentang orang yang telah mengenal Allah.

  1. Orang yang telah mengenal Allah itu wajahnya berseri-seri dan penuh senyum, namun hatinya dipenuhi ketakutan dan kesedihan (Ghurarul Hikam  hadis no 1985)
  2. Rindu (ingin bertemu dengan Allah), adalah salah satu ciri orang yang telah mengenal (arif) Nya. (Ghurarul Hikam  hadis no 855)
  3. Takut (kepada Allah) adalah pakaian mereka (Ghurarul Hikam  hadis no 664)
  4. Menangis karena takut dari menjauh dari Allah adalah ibadah mereka (Ghurarul Hikam  hadis no 1791).

Nah, bagaimana ? Apakah kita memiliki salah satu atau bahkan keseluruhan ciri yang disebutkan Imam Ali tersebut ?
Semoga, amin.

Mengapa kita harus mengenal Nya ?
Karena tidaklah sempurna iman kita tanpa mengenal Nya.
Mengapa seperti itu ?
Logikanya begini, dapatkah kita mempercayai dan meyakini seratus persen terhadap yang tidak kita kenal ?
Sudah begitu kuatkah rasa percaya anda terhadap janji-janji Allah ?
Semisal janjiNya bahwa Ia lah yang memberimu rezeki, Ia lah yang memberimu makan dan Ia yang akan mememeliharamu. Atau masih adakah rasa takut dan ragu padamu jika kau bepergian ke daerah asing seorang diri di mana tak ada seorangpun yang kau kenal di daerah itu dan tanpa sepeser pun uang di kantong mu demi mencari keridhaan Nya ?
Atau menurutmu itu malah merupakan hal bodoh dan nekat ?
Mari kita telusuri lagi kisah-kisah para kekasih Nya.

Saat saya pertama kali mengucapkan kalimah syahadah,  saya diberitahu bahwa ada 3 hal yang harus dilakukan agar syahadah itu sempurna. Pertama adalah mengucapkan dengan lisan, kedua mentasydiq dengan hati dan ketiga adalah mewujudkan dengan perbuatan.
Lalu saya mulai berpikir bahwa yang terpenting adalah mentasydiq-kan dengan hati, sebagaimana sabda sang nabi bahwa hati adalah penentu segala hal yang lahir, dan keyakinan itu timbul dari dalam hati.
Lalu bagaimana kita dapat meyakini kebenaran Nya jika kita tidak mengenal Nya ?

Untuk mendapat predikat “orang-orang beriman”, maka harus melalui tahap ma’rifat (mengenal).
Iman yang ditasydiq dalam hati, belum sempurna jika kita belum mengenal yang kita imani.
Ibarat kita meyakini adanya langit, namun tidak mengetahui di mana batas-batas langit itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s