Hati memiliki logika yang tidak mampu dipahami oleh akal pikiran.

Secangkir Kopi dari Tuhan

Ada seorang anak kecil yang menurut penduduk di desa tempat tinggalnya begitu baik, pintar dll. Okelah pokok nya. Anak tersebut sangat dekat dengan sang penguasa wilayah tersebut. Ya benar,  Sang Maha Raja.

Entah apa yang membuat anak tersebut begitu special di mata Sang Penguasa itu.

Setiap hari dan kapanpun anak itu ingin berjumpa dengan sang raja atau sekedar berkunjung dan melihat-lihat taman istana ia dapat melakukannya.Dan tak ada satu pun pengawal kerajaan yang berani menghalanginya.

Suatu hari, Sang Maha Raja memerintahkan seorang tangan kanan nya untuk mengantarkan secangkir kopi kepada anak tersebut. Dengan penuh rasa heran utusan tersebut bertanya, ” Wahai paduka raja, mengapa engkau mengirimkan kopi yang begitu enak ini dan hanya tumbuh di pekarangan istana ini untuk anak tersebut ?”

Dengan tenangnya sang raja menjawab, ” berani bantah ?Cari mati ya ?”

“Ampun tuanku”, kata si utusan.

Sang raja yang terkenal baik dan sangat menyayangi rakyatnya itu adalah raja yang juga sangat tegas. Sekali lagi tegas, bukan kejam.

Lalu berangkatlah utusan tersebut ke tempat anak kecil itu. Setelah hampir seharian mencari, akhirnya utusan tersebut menemukan anak itu sedang melamun di atas sebuah batu.

Setelah melihat anak itu, timbul lagi rasa heran dalam pikiran utusan tersebut. Sambil berpikir, ia mondar-mandir di depan anak itu tapi agak jauh, 5 meter lah kira-kira.Tiba-tiba anak tersebut berteriak, “OOii….gi suntuk ya ?Ngerusak pemandangan aja. Minggir !!!”

Namun ada sesuatu yang mengganggu pikiran anak itu, apa yg dibawa oleh utusan tersebut.

“Apakah raja mengirimkan sesuatu untukku ?”, tanya anak tersebut dengan rasa sok tau nya.

Dan ternyata memang benar. “Iya, ini ada kiriman kopi untuk mu dari sang raja”,jawab utusan tersebut.

“Kopi ?Coba bawa kemari dan tuangkan segelas!!”

“Gila ni anak, seakan dia sang raja memberi perintah seenaknya saja”, batin si utusan. Namun entah kenapa ia hanya menurut saja pada perintah anak tersebut. Mungkin karena itu adalah anak kecil yang sangat special bagi sang raja.

Setelah kopi itu dituangkan, mulai lah anak itu minum dengan nikmatnya dan tak lupa memperingatkan sang utusan agar tak menyentuh setetes pun kopi tersebut.

“Hm…enak nya kopi ini, gurih dan manis juga”, batin anak itu.

Lalu dia mulai tersenyum gembira. Tiada detik yang terlewatkan tanpa kebahagiaan yg bersemi di hatinya. Kejadian itu tidak hanya sehari dua hari, namun terus berlanjut hingga berbulan-bulan.

Suatu hari, anak tersebut mulai berpikir bahwa jika setiap hari ia minum kopi manis tersebut maka efek nya tidak bagus untuk kesehatan.Lalu menghadaplah dia ke istana. Seperti biasa, dia langsung berhadapan dengan Sang Maha Raja. Dan seperti biasa, anak itu memanggil sang raja dengan sebutan akrab yang dititahkan baginda untuk menyebut dirinya. Sebutan ini hanya diketahui oleh anggota keluarga kerajaan serta anak tersebut.

“wahai Jati, aku tidak menyukai kopi itu lagi”, keluh anak itu. Dengan heran sang raja bertanya, “Mengapa, apa yang salah dengan kopi ku ?”

“Kopi itu diberi gula, dan setau saya gula itu tidak baik untuk kesehatan. Saya minta besok engkau jangan memasukkan gula ke dalam kopi itu wahai Jati”,  jelas anak itu.

Sang raja tersenyum dan berkata, “baiklah hai buah hatiku, aku penuhi permintaanmu”.

Sebentar !!
Meskipun sang raja memanggil anak itu dengan sebutan buah hati, itu bukan berarti anak itu adalah anak sang raja.

Merasa puas keinginannya dipenuhi dan akan mendapatkan kopi terbaik di dunia, dia pun kembali ke tempatnya di antah berantah.

Keesokan harinya, anak itu telah bersiap menunggu datangnya sang utusan membawakan kopi terenak di dunia. Tapi apa yang terjadi ?Kopi itu sama sekali tak enak, gurih yang selalu dirasakannya telah hilang ditelan pahit yang terasa di lidahnya.

“Kopi apa ini, mengapa begitu tak enak ?”, pikir anak itu.

“ah, mungkin gara-gara tak ada gulanya. Bodoh sekali aku meminta kopi tanpa gula, bodoh sekali aku menganggap diriku lebih pintar dari sang raja”.

Malam itu dia begitu menderita. Pahit kopi itu masih terasa di lidahnya. Dan malam itu ia tidak dapat memejamkan mata sejenak pun. Keesokan paginya dia didera sebuah penderitaan bernama bad mood.

Sebelum sang utusan kembali mendatanginya dengan kopi pahit itu, dia bergegas menghadap sang raja.

“wahai Jati, aku tidak menyukai kopi pahit seperti kemarin. Tolong berikan gula seperti biasanya”, rengek anak itu.

Kali ini sang raja tak tersenyum, namun tertawa terbahak mendengar rengekan anak itu.

“Kenapa, bukankah kau sendiri yang ingin kopi pahit itu ?Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa gula tak baik untuk kesehatan ?”, tanya sang raja bercanda.

Dengan muka merengut anak itu menjawab, “benar wahai Jati, tapi aku tak menyangka bahwa akan se tak enak itu. Aku ingin kopi yang seperti biasa. Aku yakin kau lebih mengerti apa yang aku butuhkan dan apa yang terbaik untukku.”

Begitulah, terkadang kita terlalu menganggap diri kita mengetahui segala hal. Mengetahui segala yang terbaik untuk kita. Kita sering menganggap apa yg Tuhan berikan bukanlah suatu perkara yang baik untuk kita, sehingga kita memprotes bahkan mengatakannya tak adil.
Ingatlah, Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Allah lah Maha adil. Allah juga lah Maha Mengetahui.
Jika terkadang kita dicoba oleh Nya, memohonlah kepadaNya agar dikuatkan dan diberi kesabaran untuk melalui ujian tersebut. Karena tak ada daya dan upaya melainkan Ia.
Dan jika engkau diberi nikmat, bersyukurlah. Terima nikmat itu dengan baik-baik dan perlakukan dengan baik pula agar melalui nikmat itu engkau dapat berjalan naik. Karena sesungguhnya nikmat itu juga adalah ujian. Itu adalah amanah dari Tuhanmu.
Jangan sekali-kali engkau meminta nikmat itu menghilang darimu. Karena, jika Ia telah memberimu nikmat, itu artinya Ia telah mempercayaimu. Maka jagalah kepercayaanNya dan pintalah agar Ia melimpahkan kekuatan serta kesabaran kepadamu. Pintalah agar Ia memantaskanmu menjadi kepercayaanNya. Pintalah agar Ia memantaskan dirimu menjadi kekasihNya.
Berusahalah berbuat sebaik-baiknya dan berdoalah agar Ia menjadikan diri kita yang terbaik.
Ia lah yang menetapkan segala sesuatu. Kelak saat kita belajar langsung dari Nya, maka segala keangkuhan diri akan runtuh. Air mata akan jatuh, jantungmu akan lumpuh. Dan kita akan mengerti apa maksud semua ini.
InsyaAllah.
Advertisements

2 responses

  1. titie yoedjanto

    like this..

    August 10, 2012 at 1:19 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s