Hati memiliki logika yang tidak mampu dipahami oleh akal pikiran.

Tidak Tau Bersyukur

Bagaimanakah caranya bersyukur ?

Telah cukupkah syukur kita ?

Bahkan setiap desah nafas yang disertai namaNya tak cukup untuk mensyukuri anugerahNya. Hidup adalah anugerah, yang diberikan cuma-cuma kepada kita. Ia tak pernah meminta kita membayar kehidupan kita. Karena Ia tau bahwa kita takkan mampu untuk membayar. Maka hanya orang-orang bodoh yang berkata “hidup ini tak adil”. Hanya orang-orang bodoh yang merasa telah pantas memasuki surga dengan amal-amal ibadah yang dilakukan Nya.

Taukah kau ?Dengan sekali bersyukur Ia akan melipat gandakan nikmatNya ke atas dirimu ?

Lalu bagaimana caramu mensyukuri nikmat-nikmat itu ?Mensyukuri nikmat hidup saja sudah tak mampu.

Sungguh aneh jika dengan melakukan ibadah-ibadah kepadaNya aku berharap mendapatkan surgaNya sebagai hadiah. Berterima kasih saja aku tak mampu, malah mengharapkan imbalan. Apakah amalan-amalan ini dapat dianggap sebagai penebus diri ?Apakah amalan-amalan ini dapat dianggap sebagai bayaran atas hidup yang diberikanNya ?Apakah amalan-amalan itu pantas dianggap sebagai “harga” untuk kemudian kita berikan sebagai “bayaran” kepada Nya agar dapat memasuki taman-taman surga ?

TIDAK !! Sebagaimana hidup, ibadah adalah anugerah yang dilimpahkan Nya kepadamu. Malah kau tak tau bagaimana mensyukuri nikmat ibadah itu, lalu bagaimana mungkin kau merasa memiliki ibadah ?

Pernahkah kau gusar ketika mendapat suatu nikmat seperti gusarnya kau ketika mendapat musibah ?

Pernahkah kau ketika mendapat suatu nikmat lalu bertanya, ” Ya rabbul Izzati, kenapa aku ?Aku tak mampu mensyukuri nikmatMU ” ?

Tapi tidak, malah ketika kau mendapat musibah kau berkata ” Ya tuhan, kenapa musibah ini harus menimpaku ?” Seakan-akan kau hanya pantas mendapat nikmat dariNya.

Kau hanya bisa mengeluhkan apa yang kau rasakan dalam hidupmu. Ibarat rumah, maka hidup itu adalah bangunannya sedangkan apa-apa yang terjadi dalam kehidupan mu ibarat perabotan didalamnya. Kau hanya memikirkan tidak memiliki sofa, namun kau tidak pernah sekalipun mensyukuri memiliki rumah itu.

Apa artinya sofa tanpa rumah ?Apakah lantas rumah takkan berarti jika tidak memiliki sofa ?

Ingatlah kawan, hidup itu adalah pemberian dari Nya, apa-apa yang terjadi di dalam kehidupan itu adalah urusan tanganmu sendiri. Kau sendiri yang mengukir hidupmu. Ibarat Ia memberikan kertas dan pena kepadamu lalu kemudian kau yang menentukan apa yang akan kau tulis di dalamnya. Lalu pantaskah kau menyalahkanNya atas apa yang sebenarnya kau sendiri yang menulisnya ?

Maka benarlah firmanNya yang mulia, “sesungguhnya manusia itu bodoh lagi menganiaya dirinya sendiri”. Juga benarlah “sesungguhnya hambaku sedikit sekali bersyukur”.

Namun Ia tak pernah menyiksa kita, tidak pernah sekalipun. Karena Ia mengasihi dan menyayangi kita. Ia mencintai kita, namun kita mencampakkan cintaNya. Lantas, apakah Ia kemudian memusuhimu ?

Tidak pernah, Ia tidak pernah memusuhimu. Ia tetap mencintaimu, meski kau menyia-nyiakan cintaNya.

Semoga Ia mengajari kita bagaimana cara bersyukur yang disukaiNya, semoga kita tidak termasuk kedalam orang-orang yang mencampakkan sebongkah permata ke dalam selokan. Semoga Ia mengampuni kita,amin.

Advertisements

One response

  1. Bagaimanakah caranya bersyukur ?

    Telah cukupkah syukur kita ?

    pertanyaan yang benar-benar perlu direnungkan

    July 15, 2011 at 9:17 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s