Hati memiliki logika yang tidak mampu dipahami oleh akal pikiran.

Belajar Membaca

Suatu ketika aku pernah bertanya kepada ayahku.
“Bagaimana aku bisa mengenal Allah ?”
Ia menjawab,”semuanya telah dengan jelas dipaparkan dalam kalimah pertama wahyu”.
aku yang masih dalam kebingungan bertanya lagi, “hah ?Yang mana ?”.
Dengan sedikita bercanda ia balik bertanya,” gak pernah baca al-qur’an ya ?”.
“ya pernah lah pa”, jawabku rada-rada kesal.
“lha trus, kalau memang pernah kok malah ngga tau ?”. Jawaban yang serasa memojokkan.
“udah lah pa, jelasin aja”, pintaku penuh ketidak sabaran.

“ayat pertama wahyu adalah bacalah, dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Tapi disitu tidak disebutkan apa yang disuruh baca, benar ngga ?”
“iya, benar”, jawabku.
“salah, disitu jelas-jelas disebutkan apa yang harus dibaca”,si bapak melanjutkan.
“kan ada kata-kata Yang menciptakan, artinya kita disuruh baca ciptaan-ciptaan Nya. Itulah salah satu cara agar kamu mengenal Allah. Ini namanya mengenal Yang Satu melalui yang banyak”.
“Lalu pada kalimah kedua, secara lebih spesifik dijelaskan lagi menciptakan manusia dari segumpal darah. Jika kalimah pertama dan kedua dijelaskan, maka untuk mengenal Sang pencipta kita harus terlebih dahulu membaca sang ciptaan“.
Lalu si bapak diam sejenak dan memperhatikan kerutan-kerutan di muka ku yang menandakan bahwa aku sedang berpikir keras.
Lantas si bapak bertanya,”bagaimana ?Mengerti ?”.
“iya, ngerti. Jika ingin mengenal Allah, maka harus mengenal manusia. Tapi gimana caranya “,tanyaku menuntut penjelasan.

“Balik lagi ke kalimah pertama bacalah, dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Jelas ?”.
“ngga ngerti”, jawabku masih kebingungan.
Lalu si bapak bertanya, “siapa nama Tuhanmu ?”.
“Allah “, jawabku.
“Allah itu nama Tuhan atau Tuhannya ?”,si bapak bertanya lagi.

Otakku serasa copot dari tempatnya. Kepanikan dan rasa kosong benar-benar menyergapku.
Melihat kekosongan pikiranku, ia kemudian berkata,”ah sudah gak usah dipikirkan. Kita mulai dari yang ringan-ringan saja dulu. Apa nama yang paling akrab bagi Allah ?”.
“Ar-rahman dan Ar-rahim”,jawabku.
“apa artinya?”, si bapak nanya lagi.
“Pengasih dan Penyayang”, jawabku mencoba menyesuaikan diri.

“Artinya, jika kamu ingin mengenal Allah maka kamu harus melihat sifatNya tersebut dalam diri manusia. Perhatikanlah manusia itu sampai kamu menemukan betapa sifat Nya itu selalu menaungi manusia. Setelah itu baru kamu melanjutkan dengan memperhatikan “sesuatu” yang Ia ciptakan sendiri murni dengan “tanganNya” tanpa melibatkan pihak lain “, lanjut si bapak menjelaskan.
“Lho, memang apa pihak lain juga ikut terlibat dalam penciptaan ?Bukankah Allah Yang menciptakan semuanya ?”, aku menuntut karena terasa ada kejanggalan, jangan-jangan si bapak dah nyasar ini.

“Tentu saja ada, lihatlah dalam penciptaan makhluk yang disebut manusia saja misalnya. Disitu terdapat peran para malaikat, merekalah yang mengumpulkan unsur-unsur yang hendak dibentuk. Walaupun atas perintah dan izin dari Nya, tetap saja ada “campur tangan” dari pihak lain. Setelah itu manusia sekarang tercipta melalui peranan orang tua, disitu juga telah ada “campur tangan makhluk”. Gimana, ngerti ?”, si bapak memastikan.

Tanpa menjawab pertanyaan si bapak, aku bertanya, “lalu apa yang diciptakan oleh tangan Allah sendiri ?”.
“untuk menjawabnya kita mengutip kembali kalimah Allah yang lain yang berbunyi Fa`idzaa sawwaituhu wa nafakhtu fiihi min ruuhii faqa`uu lahu saajidiina”,…..Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.
Inilah yang diciptakan oleh tangan Nya sendiri. Inilah yang dimaksud ketika Ia berkata kepada para malaikat bahwa Ia mengetahui apa yang mereka tidak ketahui, inilah hal yang dirahasiakan Nya bahkan kepada para malaikat terdekat Nya. Inilah yang membuat manusia jadi lebih mulia daripada makhluk lainnya.
al-ruh. Ingat, ruh yang kita bicarakan disini berbeda dengan ruh yg berada dalam pemahamanmu. Ruh ini juga yang dimaksudkan dalam perkataan sesungguhnya pengetahuan tentang ruh itu berada di sisi Tuhanku.Hanya Ia yang tahu tentang rahasia al-ruh ini”, lanjut si bapak menjelaskan.

Sejenak kami terdiam, ia membiarkan aku mencerna kata-kata yang disampaikannya.
Dengan nada setengah ragu aku bertanya, “jika tidak ada yang mengerti rahasianya, bagaimana mungkin aku bisa belajar ?”.
“Allah yang akan mengajarimu”, jawabnya penuh percaya diri.
“Allah ??Bagaimana caranya ?Mana mungkin itu bisa terjadi ?”, kali ini aku benar-benar ragu.
sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui, itu adalah kalam Nya. Ingatlah kisah tentang Allah mengajarkan hal-hal kepada Adam, namun para malaikat tidak tahu dan tidak dapat mempelajarinya padahal mereka sama-sama berada di suatu tempat yang sama ?Seperti itu juga Ia akan mengajarkanmu “, si bapak mencoba meyakinkan aku.
“tapi ia seorang nabi, sedang aku ?”
“Allah tidak pilih-pilih kasih, Ia maha adil. Ia memberi petunjuk kepada siapa saja. Ia  mengajarkan manusia apa-apa yang tidak ia ketahui. Ingat, dalam firman itu bahwa Allah menyebut manusia, bukan nabi ataupun rasul saja, tapi manusia. Ya caranya berbeda-beda”.

Aku yang masih dalam keraguan kembali bertanya,”Tapi adam telah melihat Allah dan Ia telah bersama-sama Allah di surga”.

“hati-hati, jangan lagi kamu berkata Allah berada di surga. Karena tak ada tempat yang bisa menampung kemuliaan Nya, baik itu dunia ini, akhirat maupun surga tidak akan mampu. Dan ingatlah bahwa makhluk tidak akan sanggup memandang Allah, jadi yang dimaksud adam melihat Allah adalah adam telah melihat sifat-sifat Allah dalam ciptaan Nya, dan itu diibaratkan telah melihat Allah atau melihat kebesaran Nya“.

Banyak sekali yang harus dijelaskan jika kau meminta penjelasan, tapi cobalah kau menjalaninya menurut apa yang telah aku jelaskan InsyaAllah kau akan mengerti dan jika kau memang terpilih maka kau akan sampai di makam tersebut dan akan bertemu dengan Nya. Ketika itu terjadi, segala penjelasan tidak akan ada guna lagi, dan seluruh kata tak akan bisa mengungkapkannya. Mana mungkin kamu mengetahui manisnya gula jika kamu tidak pernah mengecapnya. Yang paling penting adalah keyakian, dan sekarang cukup segini saja dulu. Ingat Allah itu lebih dekat kepadamu dibandingkan urat lehermu sendiri. Dan satu lagi, nabi-nabi dan rasul memang telah habis, tetapi wali-wali dan kekasih-kekasih Nya dan hamba-hamba Nya tak pernah habis.”, kata sang bapak menutup penjelasannya. Kemudian ia melangkah pergi dari hadapanku yang masih terbingung.

Semoga cerita ini ada manfaatnya untuk kita rekan-rekan seperjalanan dalam mengenal Nya, dalam kesempatan lain kita akan membahas lebih lanjut lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s