Hati memiliki logika yang tidak mampu dipahami oleh akal pikiran.

Rumi dan reinkarnasi

Mungkin kita semua pernah membaca sajak terkenal dari seorang sufi dan penyair terkenal, rumi. Ya, rumi yang telah mengenal konsep-konsep kehidupan secara hakikat sering berjalan di pasar dan melantunkan sebait puisi nya yang tidak dapat dicerna dengan mudah. Salah satunya adalah sebuah bait yang dianggap sebagai “bait reinkarnasi”.

Aku mati sebagai MINERAL dan menjadi TUMBUHAN,
Aku mati sebagai tumbuhan dan muncul sebagai HEWAN,
Aku mati sebagi hewan dan aku menjadi MANUSIA.

Mengapa aku mesti takut ?
Bilakah aku menjadi rendah karena kematian.?
Namun sekali lagi aku akan mati sebagai Insan,
Untuk membumbung bersama para MALAIKAT yang direstui,
Bahkan dari tingkat malaikatpun aku harus wafat.

Segala akan binasa kecuali Tuhan.
Ketika jiwa Malikatku telah kukorbankan,
Aku akan menjadi SESUATU yang tak pernah terperikan oleh pikiran.

O biarkanlah aku tiada.! Karena Ketiadaan
Membisikkan nada dalam telinga.
Sesungguhnya kepadaNYAlah kita kembali

Bait tersebut tidaklah menjelaskan reinkarnasi seperti yang selama ini kita pahami. Namun ia menjelaskan tentang reinkarnasi jiwa.

Ini adalah perkembangan tingkat kesadaran manusia dari mineral hingga kembali mengenal diri.
Dalam “kasta kehidupan MAKHLUK”, kita telah mengetahui bahwa kasta terendah itu adalah TUMBUHAN. Maka perjalanan jiwa mengenal diri dimulai dari sini, dari tingkat kesadarannya yang diibaratkan berada pada kasta tumbuhan.
Setelah jiwa itu mengalami peningkatan kesadaran, maka ia beranjak menuju kasta KEHEWANIAN dan terus ke tingkat kesadaran yang disebut MANUSIA.

Manusia adalah makhluk yang selalu ingin tahu dan belajar. Maka di kasta inilah jiwa mulai benar-benar belajar memahami hakikat diri untuk kemudian beranjak ke tingkat kasta MALAIKAT.
Tentu kita paham bahwa tingkat malaikat dalam “kasta kehidupan” dianggap lebih tinggi dari manusia.

Namun ada yang lebih tinggi dari itu, seperti yang dikatakan oleh rumi “Aku akan menjadi SESUATU yang tak pernah terperikan oleh pikiran.”

Bukankah malaikat adalah makhluk dengan tingkat kesadaran yang tinggi yang hanya menurut perintah Tuhan ?Jika beranjak dari situ, itu berarti ada tingkat yang lebih tinggi lagi ?
Tentu, malaikat juga makhluk yang memiliki kesalahan. Ingatkah sebuah kisah tentang adam di dalam Al-qur’an ?Dalam kisah itu malaikat masih berkata “sesungguhnya kami menyembah Engkau di langit dan di bumi”. Artinya dalam kesadaran jiwa pada tingkat malaikat jiwa masih diliputi “keakuan di dalam keAkuan” . Tingkat kesadaran di atas malaikat adalah tingkatan yang disebut oleh kita sebagai “fana”. Jiwa tidak lagi memiliki “keakuan di dalam keAkuan”, ia telah sadar sepenuhnya bahwa hidup ini adalah “Aku bukan aku”. Inilah tingkat kesadaran yang dialami oleh rumi, al-hallaj, atau di dalam negeri kita mengenal syeikh siti jenar, hamzah al-fansuri dan lainnya. Kata-kata mereka sudah tidak bisa dicerna dengan mudah oleh manusia dengan tingkat kesadaran yang berada di bawah “kasta malaikat”. Hal itulah salah satu sebab mengapa beberapa diantara mereka harus mengalami hal-hal tragis.

Tingkat terakhir dalam perjalanan jiwa adalah “sesungguhnya kepadaNYA lah kita kembali”. Inilah tingkatan kesadaran kekasihNya tercinta, Muhammad saw.

Maka jika seluruh manusia telah mencapai tingkat kesadaran seperti ini (kesadaran Muhammad), tentu anda dapat membayangkan bagaimana indahnya dunia ini. Dan itulah sebenarnya takdir manusia diciptakan dan diturunkan ke bumi ini atau yang dikatakan menjadi khalifah di muka bumi.

Lalu dapatkah kita menjadi seperti beliau saw ?
InsyaAllah, tapi bukan hanya dengan sekedar mengikuti penampilan dan gerak-gerik beliau. Melainkan ada yang lebih penting, yaitu mengikuti tingkat kesadaran beliau. Tentu saja jika Ia Yang Maha berkuasa berkehendak ke atas kita. Amin.

Semoga berguna untuk rekan-rekan seperjalanan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s